Mengapa Umur Pesawat Soviet (Rusia) itu Pendek Dibandingkan US?

su_30mk2_tni_au_studio_v3_by_siregar3d-d4d5f9h
Su-30 TNI AU

Berikut alasan penjelasan menegenai alasan umur pesawat Soviet (Rusia) lebih pendek :

  1. Soviet menganut sistem “Umur Masa Damai” dan “Effective Remaining Lifetime”. Desain mereka, dalam kondisi apapun, pesawat yang ada di skadron harus memiliki kemampuan beroperasi “sekian jam umur minimum”
  1. Beda sistem maintenance Soviet vs US/NATO. Soviet biasanya pakai Conscript Army. Sebagian besar tentara dan teknisi mereka wamil, dan tidak terlatih. kalau perang yang turun ya bekas petani atau buruh pabrik yang sehari hari nggak pegang pesawat dan disuruh ngurusi pesawat. Beda sama US/NATO yang mengandalkan barisan teknisi darat jempolan dan terlatih tinggi (soalnya career soldier. dilatih ya buat ngurusi pesawat) , plus civilian contractor (yang lulusan Politeknik/Universitas dan betul betul orang terlatih) dilengkapi fasilitas maintenance terbaik sampai ke front line.
  1. Beda doktrin perang dan konsep. Misal MiG-29 itu Point Defence Interceptor. fungsinya dia ngendon di front base kemudian kalau radar menangkap musuh datang, dia terbang untuk menyambut lawan. Ya jangan dibandingkan dengan F-16 yang medium multirole aircraft yang pada prakteknya pun melakukan misi deep penetration ke posisi lawan 🙂

Ilustrasinya begini,

Ada pesawat MiG-X buatan Russia dan pesawat F/A-Y buatan US.

MiG-X didesain umur pakainya 2000 hours sebelum rusak. Dan effective minimum lifetime nya dipatok di 1000 hours. Jadi tiap 1000 hours, pesawat itu harus mengalami maintenance sehingga sisa umurnya “direset” ke 2000 jam lagi 🙂 Dimana dilakukannya? Di pabriknya, atau negara asli. makanya pesawat ini modular (bisa dibongkar bongkar sayapnya dan dikirim via Antonov atau Kapal kontainer). Makanya Flanker bisa dikirim lewat Antonov, dan Russia nggak banyak banyak punya pesawat sekelas C-130. Lha gak butuh kok, kalo rusak ya kirim replacement lagi aja yang baru.

Misal pada saat mau maintenance ada perang dan tidak sempat dimaintain, ya pake aja. Toh usia pake sebenarnya masih 1000 jam sisa koq. Gak ada masalah, sisa umur yang “masih panjang” ini juga menjamin kualitas pesawat dalam misi sempurna dan bisa beroperasi dengan baik. Gak usah mikir troubleshoot di lapangan, karena kondisinya prima

Pesawat US misalnya, F/A-Y. umurnya 2000 hours sebelum rusak. Nah skadron bakal make habis habisan sampai usianya mendekati 2000 hours, lalu dia lakukan maintenance berat agar sisa umurnya tinggi lagi. Nah inilah yang dinamakan “SLEP” (Service Life Extension Program)

Gimana kalau misalkan umurnya sisa 500 hours terus pecah perang? Ya pake aja. kalau perlu maintenance di lapangan. USAF itu Depoharnya sampai ke garis depan koq. Misal reliability nya turun karena umur pesawat “hampir habis”, ya troubleshoot di lapangan aja. Toh kontraktor sipil dari pabriknya juga suka ngikut ngikut sampai Iraq dan Afghan. Maintenancenya pun didesain mudah dilakukan di lapangan, makanya jangan heran kalau ada foto foto teknisi USAF ngoprek pesawat somewhere di luar sono. Dan spare part juga didesain bisa dibawa bawa dengan mudah oleh C-130 Hercules.  (makanya US Navy kelimpungan pas F-35 dateng. Engine F-35 gak masuk dalem C-2 Greyhound)

Sepintas kalau dilihat, memang seolah olah barang Rusia “umurnya pendek” (1000 jam sekali harus maintenance instead of US stuff yang 2000 jam baru maintenance) dan repot maintenancenya, karena harus dikirim ke maintenance centre di belakang. Tapi untungnya, reliabilitynya lebih terjaga, plus nggak perlu support personel yang banyak banyak di garis depan. cukup personel buat persiapan take off/landing dan routine maintenance. Tapi harus siap siap nyetok spare part dan pesawat cadangan 🙂 Dan sebetulnya antara dua jenis pesawat itu kalau dari baru dipake, umurnya ya sama-sama 2000 jam koq sebelum diperkirakan rusak.

Kalau US? yang distok ya personel terlatih, peralatan buat field repair & maintenance. Ada rusak? kerjain aja di garis depan. Ada komponen rusak, kirim aja komponen pengganti pake Herky.

Terus Indonesia idealnya mana?

kalau masih mikir embargo, dan mikir TNI AU belum ada heavy transport, ya mending cara US aja. Kita modal teknisi terlatih dan alat alat mutakhir, mereka bisa repair komponen sendiri. Yang gak bisa dikerjain di lapangan bisa dikerjain di depohar besar di bandung/madiun/malang.

kalau gaya gaya Rusia yang maintenance “digaris belakang” (alias dikirim ke Rusia) ya susah kalau hubungan sama Rusia jelek. Lha kita harus punya backup stock yang banyak koq. Tapi memang personel TNI AU nya gak usah banyak banyak sih di depan. dan gak perlu yang “pinter pinter amat”.

Sumber : Bhaskoro Aji Prabowo (Eks Karyawan PT Dirgantara Indonesia) – Kaskus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s