Perencanaan Pertahanan Udara Korpaskhas 2035

483131_98913bcd05f013ee1ec86ac8ce88322e
Rheinmetall Skyshield

Transformasi Korphaskas Hingga 2035

Berikut petikan wawancara Angkasa dengan Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI Adrian Wattimena di Markas Korphaskas, Lanud Sulaiman Bandung, usai pelaksanaan “Special Forces Gahering” yang menyertakan 180 perwira dari Korphaskas, Korps Marinir, dan Kopassus bulan lalu.

VShoRAD eksisting CPMIEC QW-3 twin launcher (photo : Indomiliter)

Dapat dijelaskan arah pengembangan Korpaskhas ke depan ?

Begini, yang sedang TNI AU lakukan saat ini adalah transformasi, termasuk di dalamnya Korphaskas hingga tahun 2035. Intinya kita melakukan adaptasi terhadap teknologi. Kalau bicara Singapura misalnya, AU mereka (RSAF) mengedepankan konsep New Generation Air Force, kita juga sama, sedang melakukan hal itu.

Kandidat ShoRAD Lanud kelas B : Norinco AF902 FCS/Twin35MM (photo : norinco)

Transformasi Korphaskas, adalah dengan mengembangkan tugas yang menyatu dengan tugas pokok Angkatan Udara. Yaitu menjaga kedaulatan dan hukum di udara. Maka kita mengembangkan sistem pertahanan udara (Hanud).

Untuk Hanud jarak dekat (Short Range Air Defense – ShoRAD) kita sudah punya, walaupun baru enam detasemen. Kita rencana sampai tahun 2035 itu adalah 36 Detasemen Hanud (Denhanud). Kalau sampai 2024, kurang lebih 12 Denhanud. Kami juga sekarang sedang menunggu pengadaan rudal Hanud jarak menengah.

Kandidat MeRAD : Norinco SkyDragon 50 (photo : Army Recognition)

Bisa diuraikan lebih detail?

Ya, sedang dalam proses pengadaan Hanud jarak medium (Medium Air Defense – MeRAD). MerAD ini jaraknya antara 50-100 km, masuk dalam program MEF 2015-2019. Ini untuk pengamanan ibu kota. Hanud Terminal ini harus terintegrasi dengan Hanud Titik karena kita membangun sistem yang integrated. Jadi tidak bisa terpisah antara Hanud Titik dengan Hanud Terminal. Sehingga, kita sekarang akan membeli yang namanya THAAD (Terminal High Altitude Air Defense).

Beberapa produk sedang dalam proses recognition, masih tahap awal proses pengadaan. Kami melakukan kunjungan ke beberapa negara pabrikan. Pilihannya antara lain NASAMS (Norwegia), LY-80 (China), Flying King (China), dan Sky Dragon 50 (China). Korphaskas melakukan kajian dan ikut dalam kunjungan. Tapi kami tidak menentukan pilihan. Sebatas pada kebutuhan operasi dan spesifikasi teknis saja. Yang menentukan produk mana yang akan dipilih adalah Kementerian Pertahanan.

Kandidat MeRAD : CASIC FK-3 Flying King-3 (photo : carnews)

Kebutuhan untuk MeRAD ini berapa unit ?

Tidak terlepas dari besarnya anggaran pertahanan. Kalau sekarang kan anggaran pertahanan itu 87,2%. Itu sekira Rp 92-95 triliun. Tahun 2016 naik lagi menjadi Rp 112 triliun dan tahun-tahun mendatang kemungkinan akan bertambah terus. Kalau misalnya presiden/kabinet menaikkan 1,5% saja, artinya anggaran kita akan naik dua kali lipat. Jadi pembangunan kekuatan itu akan makin jelas.

Kandidat MeRAD : Kongsberg & Raytheon NASAMS (photo : Army Recognition)

Kami di Paskhas itu kan mengembangkan doktrinnya dulu. Kami juga masih menunggu Perpres (Peraturan Presiden) mengenai TNI yang sekarang masih digodok di Kemenhan. Nah disitu ada hal mengenai tugas pokok. Kalau sudah ditanda-tangani oleh Presiden maka dengan sendirinya akan menjadi legal standing aspect buat kami. Kita membangun doktrin perang yang sekarang ini sudah bergeser dari area command menjadi namanya battle zone. Jadi, beberapa wilayah kita perkuat secara bertahap.

Perbedaan antara area command dengan battle zone itu lebih ke apa?

Kalau area command itu berarti pertahanan merata mulai dari Indonesia Barat hingga Indonesia Timur dan ini sifatnya tidak tajam. Itu yang disebut dengan capability base approach. Sedangkan batle zone yang kita bangun sekarang adalah menyatu dengan tugas pokok TNI AU. Artinya Lanud-lanud utama TNI AU harus kuat dulu. Setelah itu kita perkuat pangkalan aju atau pangkalan terdepan. Itu yang di peripheral-peripheral (perbatasan) yang akan kita perkuat. Pertahanan kita dalam masa damai itu kan harus defense indepth. Kita harus bangun dari tengah dulu, dari ibukota dulu sebagai center of gravity, baru berkembang ke luar.

Kandidat MeRAD : CPMIEC LY-80 (photo : sina)

Yang akan dijadikan battle zone wilayah mana saja ?

Itu didasarkan pada intelligence strategic analysis mengenai kemungkinan-kemungkinan potensi ancaman. Ya mungkin kita bilang 25-50 tahun ke depan itu tidak akan ada perang. Tapi Indonesia ini kan punya potensi ancaman. Ada masalah-masalah perbatasan maupun over claimed seperti yang kita lihat di Laut China Selatan. Negara-negara yang terlibat itu sudah sedemikian ngotot. Jadi saya kira kita harus waspada juga.

Untuk MeRAD apakah dipilih yang permanen atau mobile ?

Istilah kita adalah transportable, bisa dipindahkan. Barat, Tengah, Timur, dan Selatan akan kita perkuat. Hanya saja, pembangunan air defence itu kan sangat sensitif, jadi tidak boleh menimbulkan ketidakstabilan kawasan. Ini terkait masalah politik juga.

See full article : Angkasa Magazine, No 7 April 2016 Tahun XXVI – defense studies

Admin : Masih berhubungan dengan “Kandidat Medium SAM Indonesia“.