RI Ratulangi, Kapal Induk yang Setia Melayani Kapal Selam dan Awaknya

ri-ratulangi-552
Serah terima jabatan KSAL dari Laks. TNI Sudomo kepada Laksdya TNI Subono di diatas Geladak (KRI) RI Ratulangi, (26 Juni 1973).

Armada kapal selam Indonesia terasa kumplit dengan hadirnya kapal induk kapal selam RI Ratulangi 552. Kapal ini selalu setia melayani, baik dalam memenuhi kebutuhan kapal selam maupun awaknya.

RI Ratulangi 552 adalah kapal perang atas air atau permukaan air yang berfungsi sebagai pendukung dan pengendali operasi-operasi taktis kapal selam. Kapal induk diperlukan untuk menyupalai logistik, merawat atau memperbaiki peralatan kapal, dan melakukan tindakan medis. Kapal ini juga dapat dimanfaatkan awak kapal selam untuk beristirahat ketika tidak aktif berdinas jaga.

Logistik yang dapat diberikan kepada kapal selam dan awaknya bisa berupa logistik cair seperti bahan bakar, pelurnas, air suling untuk elektrolit baterai, dan air minurn. Logistik padat berupa bahan makanan awak kapal dan suku cadang kapal. Adapun logistik tempur berupa torpedo, ranjau, atau amunisi.

Perangkat kornunikasi yang lengkap di kapal induk memungkinkan pengendalian operasi taktis kapal selam dapat dilaksanakan secara efektif tanpa rneninggalkan unsur kerahasiaan operasi kapal selam.

Menurut Kolonel (Purn.) Susanto, mantan komandan RI Ratulangi pada era tahun 1960-an, dalam menghadapi kemungkinan terburuk terjadi perang terbuka merebut Irian Barat, kita merniliki dua buah kapal induk kapal selam buatan USSR, yakni RI Thamrin disingkat THA dan RI Ralulangi (RLI). Menurut kiasifikasi dari Persekutuan Pertahanan Atlantik Utara (NATO), THA dari jenis kapal Atrek, sedangkan RLI dari kelas Don. THA bermesin turbin uap, sedangkan RLI bermesin diesel listrik.

whiskey-class-indonesia-lci-1
Whiskey Class TNI AL (garandman – kaskus militer)

Mengiringi 6 Kapal Selam

THA tiba di Indonesia pada medio tahun 1962. Kapal ini mengiringi enam kapal selam, yakni RI Hendradjala (HDA), RI Alugoro (AGR), RI Widjajadanu (WDU), RI Pasopali (PST), RI Tjundamani (TDN), dan RI Bramastra (BMA).

Enam kapal selam ini dipersenjatai dengan torpedo listrik kendali yang canggih, berkode SAET-50, pada zarnannya beserta sejumlah torpedo cadangan yang disiapkan di kapal induknya yang bernama RI Thamrin. RLI tiba kemudian setelah THA dan sepenuhnya diawaki anggota ALRI yang sebelumnya dilatih di pangkalan AL USSR, Sewastopal di Laut Hitam. Komandan pertama RLI setelah masuk di jajaran Armada RI adalah Mayor Pelaut J. Soedirman.

“Berawal pada tahun 1971, ketika aku ditunjuk menjadi Kepala Staf Gugus Tugas 71.1, jabatan rangkapku, karena aku masih definitif sebagai komandan kapal selam RI Pasopati yang sedang merjalani perbaikan besar di Penataran Angkatan Laut (PAL) Surabaya,” kenang Susanto.

Gugus Tugas 71.1 selanjutnya disingkat GT 71.1, dikornandani oleh Letkol Pelaut Rudolf Kasenda yang kelak menjadi Kepala Staf Angkatan Laut RI. Markas Komando GT 71.1 berada di RLI.

Unsur-unsur GT 71.1 terdiri dari Kapal Markas, Kapal Fregat, Kapal Selam, Kapal Tanker, Detasernen Marinir, serta diperbantukannya Pesawat Udara Armada atas permintaan bila diperlukan. Latihan demi latihan dilaksanakan secara intensif dengan keterbatasan dana saat itu.

“Muhibah kapal-kapal perang negara sahabat ke Indonesia kita rnanfaatkan untuk latihan bersama, maka terciptalah latihan bersama dengan nama gabungan seperti Latihan Bersama Malindo (Malaysia-Indonesia), Philindo (Philipina-Indonesia), Hollindo (Holland-Indonesia), dan lain sebagainya,” ujar Susanto.

Suku cadang ex unsur-unsur kapal perang USSR sudah tidak masuk lagi. Suku cadang yang tersisa harus betul-betul dimanfaatkan secara optimal. Kalau pun terpaksa, harus kreatif dengan mengganti padanannya yang ada di pasaran, walau tidak asli. Atau kanibalisasi dengan unsure sejenis yang sudah dikeluarkan dari jajaran kapal perang RI (sudah disposed).

RLI sebagai Kapal Markas Komando cukup rnemadai. Sarana komumkasi yang vital untuk mengendalikan unsur-unsurnya sangat mendukung. Begitu juga fasilitas akomodasi untuk personil staf terasa mencukupi.

Sebagai kapal induk, RLI mampu rnelayani sekaligus enam buah kapal selam. Dukungan layanan itu berupa perbaikan perbengkelan kapal, isi ulang logistik baik untuk kapal selam maupun awaknya, serta pengisian atau pengeluaran persenjataan torpedo, ranjau, dan amunisi sesuai dengan kebutuhan kapal selam.

Pengisian tenaga listrik untuk baterai kapal selam yang sedang bersandar dapat dipenuhi dari generator yang ada di RLI. Tersedia juga klinik kesehatan untuk rawat umum dan bedah gigi. Ruangan berupa tabung kontainer udara bertekanan (compression chamber) untuk pernulihan kesehatan bagi penyelarn yang mengalami kecelakaan karena tekanan hidrostatik (barotrauma) juga tersedia. Compression chamber seperti yang ada di RLI, pada saat ini menjadi kelengkapan fasilitas penyembuhan bukan hanya bagi penderita barotrauma, tetapi juga penyakit lain di runtah sakit besar Angkatan Laut kita.

ri-ratulangi-552-indomiliter
RI Ratulangi 552 (indomiliter)

Geladak atas RLI relatif luas dengan dilapisi papan dari kayu sehingga memberi kenyamanan, baik bagi pejalan di atas geladak maupun kesejukan ruang di bawah geladak. Kayu adalah isolator panas yang baik sekaligus peredarn getaran dan tidak licin. Kenyamanan geladak RLI menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu undangan resepsi sewaktu Eskader-1/ Barat melaksanakan pelayaran muhihah ke negara sahabat di Asean.

“Selepas jabatan sebagai Kepala Staf’ Eskader-1/ Barat di tahun 1973, aku diangkat menjadi Komandan RLI. Dua tahun sudah aku berlayar mengarungi lautan bersarna RLI. Jadi, untuk menjabat komandan di kapal ini bagiku sudah tidak asing lagi. Spesifikasi serta cirri-ciri khas olah gerak kapal ini sudah kukenal dengan baik,” tutur Susanto.

Dengan bermesin diesel-listrik, olah gerak RLI menjadi lebih lincah dan reaktif. Diesel pokok memutar generator. Generator menghasilkan tenaga listrik. Tenaga listrik memutar elektro motor. Elektro motor memutar poros baling-baling yang di ujungnya terpasang daun baling-baling.

RLI memiliki dua poros baling-baling yang memutar baling-baling kanan dan kiri kapal. Bentuk bangunan kapal RLI sangat unik. Lambung kapal tinggi dengan banyak jendela kedap layaknya bentuk lambung sebuah kapal penumpang’

‘Ditinjau dari berat serta keragarnan meriarn yang dimiliki, RLI setara dengan sebuah kapal perusak atau destroyer. Meriam utama kaliber 100 mm sebanyak 4 pucuk yang berada dalam kubah ineriam tunggal. Sebanyak 8 pucuk meriam kailber 50 mm berada dalam 4 menara meriam berlaras kembar. RLI juga rnampu rnenyebar ranjau laut” ungkap Susanto.

Fasilitas bengkel dan gudang menjadikan RLI layaknya sebagai jenis depot (repairship). Di ujung haluan RLI terdapat sebuah katrol sangat besar yang berkemampuan angkat sampai 300 ton. Katrol ini berguna untuk perbaikan baling-baling dan sistem poros kapal selam dengan jalan menunggingkan kapal selarn ke depan, sehingga baling-baling mencuat ke perrnukaan.

RLI juga dilengkapi dengan senjata yang cukup tangguh. Dengan demikian, ia dapat melindungi dan mempertahankan diri. Begitu juga kapal-kapal selam yang sedang merapat di lambungnya bisa terlindung dari kernungkinan serangan lawan.

don-class-ship
Soviet Don-class submarine tender. (pinterest)

Pingsan Saat Latihan Serangan Udara

Selama beroperasi, awak RLI harus mernprioritaskan disiplin. Namun ada saja awak yang melanggar. “Dari 300 orang awak kapal, ada saja, satu atau dua awak, yang kadang-kadang rnelanggar disiplin,” ungkapnya.

Di suatu tengah malam, lanjut Susanto, Komandan RLI mernerintahkan latihan anti serangan udara. Salah satu meriam kaliber 100 mm diperintahkan untuk ditembakkan ke langit sebagai sasaran, yang diandaikan sebagai pesawat udara musuh.

Kiranya ada seorang anggota yang tidak disiplin. Ia ingin melihat situasi di luar bagaimana meriahnya pijaran peluru meriam penangkis serangan udara melintas di kegelapan malam.

“Begitu dia membuka pintu kedap kapal yang berdekatan dengan kubah meriam 100 mm, menggelegarlah bunyi meriam tersebut ketika menembakkan peluru suar. Serta-merta anggota yang tidak disiplin itu terkapar jatuh pingsan. Beruntung dia tidak mati karena terkejut. Agar dia disiplin, hukuman disiplin dikenakan setelah ia sehat,” jelas Susanto.

Pengalaman lain yang masih ia kenang adalah ketika acara serah terima jabatan dan KSAL Laksamana TNI Soedomo ke penggantinya, Laksarnana Madya TNI R. Soebono. Peristiwa bersejarah itu terjadi di atas geladak RLI yang sedang berlayar.

“Ini merupakan peristiwa pertama kali dan juga terakhir kalinya di Angkatan Laut kita hingga kini,” jelas Susanto.

Tanpa asistensi kapal tunda (tug boat) dan pandu pelabuhan, Susanto dengan RLI-nya membawa tamu undangan beserta pasukan peserta upacara. RLI dengan anggun berlayar di Selat Madura dari barat ke timur melintas kapal-kapal perang RI yang rapi segaris lego jangkar dengan awaknya berseragam putih bersih berjajar di geladak dengan posisi peran parade.

“Upacara serah tenima Kasal di geladak itu berjalan lancar. RLI kembali merapat ke dermaga Madura dengan tenaga sendiri dan juga tanpa asistensi Pandu Pelabuhan tepat sesuai waktu yang direncanakan,” papar Susanto.

Tamu undangan turun dari kapal dengan mendapat penghormatan dari Komandan RLI. Atase Muter dan Amerika Sei ikat yang ihut hadir dalarn upacara terkesan seolah heran bahwa kapal Don-Class berbobot 9.000 ton (penuh) itu hanya dikomandani seorang Mayor ALRI, Susanto, yang ketika itu masih berumnr 35 tahun.

soviet_don-class_submarine_tender_in_the_mediterranean_sea_1967
Soviet Don-class submarine tender in the Mediterranean Sea (1967). (wikipedia)

Spesifikasi Kapal Induk Kapal Selam RI Ratulangi 552

Jenis                            : Kapal Induk Don-Class buatan USSR
Bobot                          : 6.800 ton (standar), 9.000 ton (penuh)
Panjang                       : 139,9 meter
Lebar                           : 16,5 meter
Sarat                            : 6,8 meter
Meriam                        : – 4 laras 100 mm, tunggal
– 8 laras 57 mm, kembar 4
Mesin pokok               : 4 diesel, 14.000 bhp, 2 poros
Kecepatan maks         : 21 knot
Jarak tempuh              : 10.000 mil pada 12 knots
Awak kapal                 : 300 orang

Sumber : Kapal Selam Indonesia (Indroyono Soesilo dan Budiman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s